Bebas Berekspresi



Bebas berkspresi adalah keniscayaan pada masa sekarang ini. Orang bebas berekspresi sesuai dengan keinginan, bakat dan kepentingan mereka sendiri-sendiri. Kebebasan berekspresi menjadi hal yang diselebrasi di dunia virtual beberapa dekade belakangan ini. Sama dengan seluruh hal di muka bumi, kebebasan berekspresi pun tidak bersisi tunggal. Senantiasa ada dampak negatif yang ditimbulkannya dan salah satunya ialah potensi komentar-komentar pedas atau bernada mencemooh di media sosial. 

Di Twitter misalnya, Andika eks vokalis Kangen Band kerap dijadikan bahan pergunjingan netizen. Mulai dari meme penampilannya sampai berbagai tingkah laku laki-laki yang baru diangkat sebagai Wakil Ketua Bidang Seni dan Budaya DPD Demokrat Lampung, menjadi sasaran empuk untuk dirisak di media sosial. Ada yang menyetarakan wajahnya dengan karakter Sasuke dari komik Naruto, ada yang mengomentari bagaimana ia dapat berkali-kali menikahi perempuan cantik yang berbeda, dan yang belum lama ini menjadi viral adalah kabar fotonya masuk dalam UTS sebuah kampus. 

Komentar negatif terkait penampilan tentu saja tidak menerpa Andika saja. Selmadena Aquilla, menantu Amien Rais yang kabar kisah cintanya menjadi viral awal Maret silam juga sempat digosipkan melakukan operasi plastik setelah foto masa lalunya beredar di media sosial. Pun demikian dengan foto Aurel Hermansyah semasa sekolah menengah yang dibandingkan dengan fotonya saat ini. Dalam sebuah gambar, foto lamanya bahkan diberi keterangan ‘gendut, hitam, cupu’, sementara foto teranyarnya dilabeli ‘Wow’

Mengapa Orang Gemar Memperolok Orang Lain?

Fenomena semacam ini disebut dengan online shaming. Dalam situs Parent Info, online shaming didefinisikan sebagai kejadian di mana seseorang disasar dan diserang oleh pengguna internet lain dan lazimnya berlangsung di media sosial. Online shaming timbul akibat ucapan-ucapan, tindakan, atau gambar yang pernah diunggah oleh si korban. Sering kali online shaming melibatkan publik luas meski tidak sedikit juga kasus yang berskala kecil atau dengan jumlah pelaku terbatas. Lebih lanjut lagi dijelaskan, online shaming merupakan salah satu bentuk perundungan di dunia digital yang bisa berdampak signifikan di kemudian hari.

Salah satu akibat fatal yang dipicu oleh online shaming ialah tindakan bunuh diri seorang perempuan Italia yang video seksnya menjadi viral. Tiziana Cantone memilih mengakhiri hidup setelah foto dan ucapannya seputar video seks dimana ia terlibat dijadikan ¬meme dan bahan tertawaan publik luas. Keinginan untuk mempermalukan orang lain di media sosial sudah berakar sejak ribuan tahun silam. Penyaliban para pelaku kriminal adalah salah satu manifestasi shaming yang dilakukan masyarakat Yahudi. Dalam buku Disiplin Tubuh (LKiS, 1997) dipaparkan pemikiran Foucault yang mengamati kegemaran masyarakat pada abad 17 dan awal abad 18 di Prancis untuk menonton penyiksaan yang kejam. Pada perkembangannya, kegemaran ini bergeser dari penghukuman terhadap tubuh menjadi kehendak untuk mengoreksi, termasuk di dunia digital.

Komentar-komentar individual bernada mencemooh ini tak jarang dimanfaatkan beberapa media untuk menyetir pandangan masyarakat yang lebih luas lagi. Lewat judul provokatif dan bertendensi negatif, dibubuhi dengan potongan-potongan opini sarkastik segelintir individu, online shaming pun tumbuh subur dan seolah menjadi bagian inheren dalam kehidupan layar elektronik.     

Orang-orang di dunia online cenderung lebih berani melakukan hal ini daripada secara langsung di kehidupan nyata, demikian pendapat Richard Smith, direktur Centre for Digital Media di Vancouver yang dikutip dari situs CBC News. Kecenderungan ini dapat dimungkinkan oleh beberapa hal. 

Dalam wawancara dengan Tirto terkait online shaming, Damar Juniarto, blogger sekaligus pegiat Forum Demokrasi Digital mengatakan, “Ada fenomena yang disebut ilusi kebebasan di internet. Seseorang merasa ia bebas berbuat apa saja dan tidak punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan karena dunia internet dianggapnya maya.” 

Kenapa hal ini dikatakannya sebagai ilusi? Ini karena tindakan-tindakan seseorang di dunia internet juga memiliki konsekuensi dan tanggung jawab sama seperti dalam kehidupan nyata. Damar memandang, sama halnya dengan di dunia nyata, tindakan netizen di ranah digital mempunyai implikasi hukum karena mereka juga merupakan subjek-subjek hukum. 

Kemungkinan untuk menyembunyikan identitas asli atau memilih menjadi anonim sehingga merasa tak bersalah menyudutkan, mencemooh, atau menertawai orang lain yang belum tentu mereka kenal secara langsung. 

“Karena adanya anonimitas, seseorang bisa melindungi diri ketika ikut melakukan online shaming. Mereka tak perlu khawatir akan ketahuan,” imbuh penggagas AlineaTV dan Tanam Ide Kreasi ini. 

Perasaan tak bersalah, ditambah dengan kurangnya sensitivitas terkait isu-isu tertentu, sedikit banyak memengaruhi opini orang lain seiring dengan menyebarnya material olok-olok dan pada akhirnya menciptakan suatu konformitas aksi memperolok seseorang dalam masyarakat digital. 

0 Response to "Bebas Berekspresi"

Post a Comment